DAMPAK PERUBAHAN IKLIM GLOBAL TERHADAP INDONESIA


By Tony Kristianto Juwono
Perubahan iklim global akan memberikan dampak yang sangat parah bagi
Indonesia karena posisi geografis yang terletak di ekuator, antara dua benua dan dua
samudera, negara kepulauan dengan 81.000 km garis pantai dengan dua pertiga
lautan, populasi penduduk nomor empat terbesar di dunia dengan tingkat kesadaran
lingkungan yang rendah, degenerasi kearifan budaya lokal, pendidikan yang tidak
memadai, keterampilan rendah, keterbelakangan iptek, kepedulian sosial minim, dibelit
kemiskinan dan kesulitan ekonomi, kelemahan pemerintahan, korupsi, kurangnya
kepemimpinan, serta kelakuan yang buruk dari pengusaha dan institusi internasional.
Posisi geografis Indonesia menyebabkan bahwa pada setiap saat di dalam
wilayah negara ini ada musim-musim yang saling berlawanan dan bersifat ekstrim, di
satu wilayah terjadi kekeringan dan kekurangan air, di wilayah lain terjadi banjir.
Musibah angin kencang dan gelombang pasang bisa terjadi setiap waktu dan sulit
diprediksi jauh-jauh. Produksi pertanian, khususnya tanaman pangan, menjadi semakin
sulit dan menimbulkan kerawanan pangan. Hubungan transportasi dan komunikasi
antar pulau akan semakin sulit dan berbahaya. Semuanya akan bermuara pada
disintegrasi negara kesatuan RI.
Panjang garis pantai akan berkurang dengan naiknya permukaan laut, ratusan
ribu kilometer persegi daratan di pesisir pantai akan hilang ditelan laut dan bersamanya
akan ikut tenggelam pula kota -kota dan desa pesisir yang menjadi permukiman dari
lebih seratus juta orang yang sebagian besar miskin serta asset dan infrastruktur
bernilai trilyunan Euro. Pesatnya peningkatan permukaan laut ini tidak akan mampu
diimbangi dengan kecepatan untuk memindahkan penduduk dan menggantikan
infrastruktur yang hilang. Belum lagi tiadanya modal untuk melaksanakannya. Bencana
besar itu akan datang dalam hitungan beberapa dekade saja apabila upaya antisipasi
tidak dilakukan, baik secara regional maupun global.
Kepedulian terhadap lingkungan sangat minim. Kearifan budaya lokal untuk
menjaga keseimbangan lingkungan dikalahkan oleh kebutuhan ekonomi, keserakahan,
serta inefisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya. Erosi hutan alam terjadi dengan
kecepatan tinggi menyebabkan banjir, tanah longsor dan kekeringan. Erosi hutan bakau
menyebabkan abrasi pantai. Penduduk yang di pantai tenggelam, yang di gunung
tertimbun, yang di tengah kehausan. Kebakaran dan pembakaran hutan menimbulkan
asap yang menyesakkan bagi penduduk sendiri maupun penduduk negara tetangga.
Belum lagi dampak ke penduduk dunia lain karena menurunnya kemampuan hutan
untuk menghasilkan oksigen dan menyerap gas-gas polutan lainnya yang berpengaruh
kering
besar pada perubahan iklim dunia. Indonesia adalah pemilik wilayah hutan tropis
terluas kedua di dunia.
Kemampuan pemerintah untuk menata ruang dan membuat peraturan kurang
mempertimbangkan lingkungan. Itupun masih ditambah lagi dengan kelemahan
penegakan hukum dan disiplin kepemimpinan. Korupsi dan ketidakpedulian membuat
upaya menjaga dan memperbaiki ekosistem makin parah.
Hal yang paling merisaukan adalah perbuatan dari pengusaha dan institusi
internasional yang mempunyai kepentingan politik, ekonomi dan lainnya. Mereka
memberikan iming-iming dan arahan yang menyesatkan ditengah keluguan, kerakusan,
serta kebodohan pejabat pemerintah pusat, daerah dan pengusaha lokal. Mereka inilah
yang menjadi penadah dari penggalian sumberdaya alam yang tidak bertanggungjawab
ini. Barulah setelah dampak perubahan iklim global mulai mengancam kehidupan
mereka juga maka Indonesia ditekan untuk memperhatikan lingkungan. Sayangnya,
mereka sendiri enggan mengurangi polusi yang dihasilkan oleh industri di negara
masing-masing. Padahal, mereka justru pencemar lingkungan yang paling besar yang
selama ini menjadi sumber utama perubahan iklim global.
Kegagalan Indonesia untuk menyelamatkan diri dari perubahan iklim dapat
dipastikan akan menyeret juga negara-negara lain di dunia ke dalam permasalahan
yang sama, hanya waktunya saja yang berbeda. Kiamat akan datang dari Indonesia
dan menyebar ke seluruh dunia.
Bagaimana untuk mencegah kiamat ini?
Perubahan iklim ini harus diatasi bersama-sama dan tidak ditunda-tunda. Setiap
negara harus memberi kontribusi dengan tindakan-tindakan yang dilakukan di dalam
negerinya sendiri sesuai kemampuan masing-masing. Negara maju harus membantu
negara miskin. Bentuk bantuan itu tidak saja berupa bantuan teknis dan ekonomi,
namun dibutuhkan juga tekanan politik yang positif untuk menanamkan urgensi
masalah ini dan mendapatkan komitmen dari para pemimpin untuk bertindak.
Apabila negara-negara maju mau memperlambat laju pertumbuhan
kemakmurannya dan memberikan kesempatan kepada negara yang miskin untuk
meningkatkan kemakmuran dengan cara yang bertanggungjawab terhadap
lingkungannya, maka pada suatu saat akan tercapai suatu ekuilibrium yang membuat
perbuatan manusia semakin berimbang dan perubahan iklim global pun akan
cenderung kembali ke arah yang positif.
Tony J.Kristianto
Sekretaris Jenderal
Agri Business Club /
Wakil Ketua Dewan Jagung Nasional /

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar