PEMUKIMAN TRADISIONAL DUSUN BENA

Perjalanan kali ini membawa saya ke suatu dusun tradisional di sebelah timur Indonesia, tepatnya di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Namanya Dusun Bena, secara administratif masuk dalam wilayah Desa Tiworiwu, Kecamatan Jeburu’u, Kabupaten Ngada, sebuah kabupaten di sebelah barat Pulau Flores. Saya penasaran sekali ingin berkunjung ke Dusun Bena ini, karena menurut informasi yang saya dapat, Dusun Bena telah ada sejak abad XII lalu! Wow, sudah lama sekali, bukan? Kehidupan dan budaya masyarakatnya pun tidak banyak berubah, mereka masih memegang teguh adat-istiadat para leluhurnya.
Bulatlah tekad saya untuk mengunjungi Bena! Setelah mempelajari peta Pulau Flores, saya tahu bahwa pintu gerbang udara yang terdekat dengan Dusun Bena (Kabupaten Ngada) adalah Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman di Kabupaten Ende. Dari Ende ke Ngada dapat ditempuh melalui perjalanan darat dengan kendaraan roda empat selama lima jam. Jadilah saya pergi dengan pesawat paling pagi dari Bandung, transit di Surabaya dan Denpasar, lalu lanjut ke Ende. Pesawat yang dari Denpasar ke Ende ini hanya tersedia pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Tetapi, kalau rute dari Jakarta ke Ende, setiap hari juga tersedia.
Tengah hari, saya tiba di Bandara H. Hasan Aroeboesman. Selesai mengurus barang-barang bawaan, saya langsung diserbu supir-supir ‘taksi’ yang menawarkan diri untuk mengantar ke Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada. Jangan membayangkan taksi di sini seperti taksi di Jakarta dan Bandung. Taksi di sana adalah mobil-mobil pribadi yang disewakan, lengkap dengan supirnya. Setelah sepakat dengan harga yang ditawarkan, dimulailah perjalanan saya menuju Bajawa. Perjalanan dari Ende menuju Bajawa akan melalui Nangapanda-Kabupaten Ende, Nangaroro-Kabupaten Nagekeo, Aegela-Kabupaten Nagekeo, dan Boawai-Kabupaten Ngada.
image0053
Gambar 1
Pantai Batu Hijau

(foto: Ina H.K., 2008)
Sepanjang perjalanan, mata saya disuguhi pemandangan yang indah antara pantai dan tebing serta perjalanan yang berkelok-kelok. Pemandangan yang begitu memikat hati saya adalah pantai-pantai dengan batu-batu hijaunya di sekitar Desa Punggajawa. Menurut bapak penjual batu di pinggir pantai, harga batu-batu hijau yang berukuran kecil sekitar Rp. 300,- per kilogram, sedangkan yang berukuran besar Rp. 200,- per kilogram. Wuihh….murah sekali, bukan? Kalau sudah sampai tanah Jawa, harganya bisa menjadi 10 – 20 kali lipat.
Menjelang petang, saya tiba juga di Kota Bajawa. Begitu tiba, saya disambut dengan udara yang sangat dingin. Maklum saja, Kota Bajawa ini kan berada di daerah pegunungan Inerie.
image0034
Gambar 2
Gunung Inerie

(foto: Ina H.K., 2008)
Karena hari sudah menjelang gelap, saya memutuskan untuk menginap di Bajawa, perjalanan ke Dusun Bena saya lanjutkan besok pagi saja. Sebenarnya, saya bisa saja menginap di Dusun Bena karena di sana ada juga homestay yang dikelola oleh penduduk, tetapi saya ingin tahu juga Kota Bajawa.
Dari penginapan tempat saya menginap, pemandangan pagi Gunung Inerie terlihat begitu indah, dengan langit yang biru dan bersih, serta awan yang sedikit menutupinya. Menurut informasi yang saya dapat, Gunung Inerie ini memiliki ketinggian 2245 meter di atas permukaan laut. Konon, gunung ini ramai dikunjungi pada bulan Juni – Agustus, bulan-bulan libur sekolah yang bersamaan dengan musim kemarau sehingga aman untuk didaki gunung ini.
Selepas sarapan, saya bersiap menuju Dusun Bena. Dengan mengendarai kendaraan roda empat perjalanan ke Bena pun saya mulai. Dalam perjalanan menuju Bena, saya melalui permukiman tradisional dengan atap-atap rumahnya yang terbuat dari seng, dan full music. Masyarakat di permukiman tradisional yang saya lewati memang sedang asyik menari-nari diiringi musik lagu-lagu khas daerah dari tape yang disambungkan ke sound system yang lumayan besar sehingga suara musik dari rumah di ujung jalan bisa terdengar oleh rumah-rumah di seberang jalannya. Salah satu penduduk sempat memberhentikan mobil dan mengajak saya menari, tetapi dengan bahasa daerah, supir mobil yang saya tumpangi menjelaskan bahwa kami sedang menuju Bena dan harus segera meneruskan perjalanan. Akhirnya, saya tidak jadi ikut bergoyang bersama mereka.
Kondisi jalan ke arah Dusun Bena memang tidak begitu bagus, banyak aspal yang sudah terkikis sehingga penuh lubang, tetapi ini tidak mematahkan semangat saya untuk ke Bena, karena di ujung perjalanan ini saya akan menemukan sebuah desa tradisional yang sudah sangat tua, yang masih memegang teguh budaya leluhurnya.
image0015
Gambar 3
Pemandangan Atap Rumah-Rumah Tradisional Bena

(foto: Ina H.K., 2008)
Setelah 30 menit perjalanan, melewati permukiman tradisional, hutan bambu, dan padang rumput, akhirnya tibalah saya di Bena. Dusun Bena terletak tepat di kaki Gunung Inerie, 785 meter di atas permukaan laut. Dalam perjalanan menuju Bena tadi, sebetulnya atap-atap rumah tradisional di Bena sudah dapat saya lihat dari kejauhan. Pemandangan yang sangat unik, atap alang-alang di tengah-tengah pepohonan hijau.
image0073
Gambar 4
Dusun Bena

(foto: Ina H.K., 2008)
Dusun Bena membentuk kantong permukiman di antara ngarai yang mengelilinginya. Memasuki Dusun Bena, saya harus menaiki sepuluh anak tangga karena posisi dusun ini memang lebih tinggi dari jalan raya. Sepuluh anak tangga ini disebut ture e’bu pati, merupakan simbol 10 keluarga yang pertama kali datang ke Dusun Bena. Konon, kesepuluh keluarga ini merupakan orang-orang Pati, Jawa Tengah, yang melarikan diri.
image0112
Gambar 5
Anak Tangga Masuk Dusun Bena

(foto: Ina H.K., 2008)
Dan ternyata, setelah memasuki dusun pun saya masih harus menaiki anak-anak tangga lainnya untuk masuk ke satu kelompok permukiman yang ada di dusun tersebut. Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata Bena yang mendampingi saya, ketinggian letak-letak permukiman tersebut menunjukkan tingkatan suku-suku yang ada di Dusun Bena. Setiap suku memiliki satu wilayah kecil di satu undakan luas yang disebut loka sewu.
Ada sembilan suku yang ada di Dusun Bena, yaitu Suku Dizi, Suku Dizi Azi, Suku Bena, Suku Wahto, Suku Deru Lalulewa, Suku Deru Solamae, Suku Ngada, Suku Khopa, dan Suku Ago. Suku Bena merupakan suku tertua dan pendiri dusun ini, oleh karena itu namanya digunakan juga sebagai nama dusun.
image0092
Gambar 6
Batu-Batu Megalitikum Di Bena

(foto: Ina H.K., 2008)
Pemandangan yang paling menarik bagi saya adalah batu-batu megalitikum yang hampir ada di depan setiap rumah di Bena. Batu-batu megalitikum itu adalah makam-makam para leluhur mereka, dan ada juga yang merupakan pelataran tempat para tetua adat mengadakan rapat penting.
Oh, iya, selain batu-batu megalitikum, di depan rumah-rumah tradisional tersebut juga ada dua jenis bangunan yang ukurannya lebih kecil daripada rumah. Bangunan ini merupakan media penghubung dengan leluhur mereka, dan juga berfungsi sebagai lambang keberadaan suatu suku. Bangunan ini didirikan ketika suatu suku baru akan terbentuk. Dua jenis bangunan ini disebut ngadhu dan bagha. Ngadhu merupakan bangunan yang menghubungkan masyarakat dengan leluhur lelaki mereka, sedangkan Bagha dengan leluhur perempuan.
image0131
Gambar 7
Rumah Sao Saka Puu
Mengelilingi batu-batu megalitikum tersebut, berjejer dengan rapi rumah-rumah tradisional yang berbentuk rumah panggung, yang berjumlah 45 buah rumah, dihuni oleh 67 kepala keluarga. Rumah-rumah tradisional Dusun Bena ini sangat unik, di atap setiap rumah dapat ditemui simbo-simbol kecil yang berbentuk rumah, merupakan miniatur bhaga, atau boneka pria, yang merupakan simbol ngadhu.
image0151
Gambar 8
Rumah Sao Saka Lobo
Rumah dengan miniatur bhaga menandakan bahwa keluarga di rumah tersebut berasal dari nenek moyang perempuan, rumah ini disebut sao saka puu. Rumah yang bersimbol boneka kecil di atap, menandakan rumah nenek moyang lelaki atau disebut juga sao saka lobo.
image0192
Gambar 9
Tanduk kerbau di rumah Bena
Pada beberapa rumah ada terdapat tanduk-tanduk kerbau dan rahang-rahang babi. Tanduk kerbau yang dipajang menandakan bahwa keluarga di rumah tersebut pernah berbuat sesuatu kebaikan untuk orang miskin, sedangkan rahang babi menunjukkan jumlah babi yang pernah dipotong untuk upacara kasao atau upacara membuat rumah adat.
image0172
Gambar 10
Rahang babi di rumah Bena
Masyarakat Dusun Bena memang masih sangat tradisional. Mereka yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia saja masih dapat dihitung dengan jari. Bahasa komunikasi sehari-hari mereka adalah bahasa Nga’da. Kehidupan tradisional Bena juga ditunjukkan dengan kegiatan ibu-ibu menenun kain di depan rumah mereka. Kain-kain ini selain digunakan untuk pelaksanaan upacara adat, juga dijual kepada wisatawan yang datang ke Bena.
Berbicara tentang upacara adat tradisional, masyarakat Dusun Bena sangat terkenal dengan upacara Reba, yaitu upacara menyambut tahun baru. Sebenarnya upacara Reba ini juga dilakukan oleh masyarakat Ngada lainnya, tidak hanya masyarakat Dusun Bena. Menurut penjelasan dari Ketua Pokdarwis yang mendampingi kami, upacara Reba ini bertujuan untuk melakukan penghormatan dan ucapan terima kasih kepada para leluhur. Upacara ini juga dilakukan untuk mengevaluasi segala hal tentang kehidupan masyarakat Ngada yang telah dijalani pada tahun sebelumnya.
Upacara Reba terdiri dari serangkaian kegiatan, dari mulai bui loka, kobe dheke/reba bhaga, kobe reba, dan kobe dhoro/kobe su’i. Upacara Reba di Bena ini dilaksanakan pada Desember-Januari setiap tahunnya.
Bui Loka
Bui loka dilakukan oleh setiap woe (suku) di luar kampung pada suatu tempat khusus yang biasa disebut loka/lanu. Pada acara ini biasanya orang/peserta Bui Loka akan melakukan pembersihan loka/lanu (batu-batu megalitikum yang dibangun khusus untuk memberikan sesajen kepada leluhur) di luar kampung. Upacara ini biasa dilaksanakan satu minggu atau beberapa hari menjelang upacara Reba dimulai. Pada acara ini biasanya dilakukan penyembelihan hewan kurban yang darahnya akan direcik pada batu (loka) dan dagingnya akan dimakan bersama nasi bumbu.
Kobe Dheke/Reba Bhaga
Acara yang dilaksanakan pada malam menjelang Reba. Acara ini akan dihadiri semua one woe (anggota suku) salah satu rumah adat yang telah ditentukan/disepakati. Menjelang acara ini biasanya dilaksanakan reba bhaga yang bertujuan untuk memberi makan kepada ngadhu dan bhaga dan baru dilanjutkan dengan kobe dheke reba (acara untuk member sesaji kepada leluhur didalam rumah adat). Pada acara ini biasanya dilakukan penyembelihan hewan kurban berupa ayam atau babi.
Kobe Reba
Pada hari berikutnya akan dilaksanakan tarian sedo uwi dan pada malam harinya para tetangga saling mengundang untuk mengadakan perjamuan bersama. Hal ini sebagai pertanda ungkapan kegembiraan atas tahun adat yang baru serta rasa solidaritas dan kekerabatan.
Kobe Dhoro/Kobe Su’i
Pada malam terakhir dari Reba, para ana woe akan berkumpul pada salah satu rumah yang ditentukan untuk mengevaluasi semua kejadian dan kegiatan yang dilaksanakan oleh setiap anggota suku (one woe). Biasanya para tetua dalam suku (dela/mosa one woe) akan memberikan petuah dan nasihat kepada generasi muda mengenai berbagai hal yang harus diperhatikan dalam kehidupan berbudaya. Setelah mengevaluasi, maka akan dilaksanakan su’i uwi (memotong/mengiris ubi) sambil menceritakan legenda perjalanan leluhur.
Wah, banyak sekali pengetahuan dan pengalaman berharga yang saya ambil dari kunjungan saya ke Bena. Di antara hingar-bingar kehidupan modern di kota-kota, ternyata masih terdapat masyarakat yang memegang teguh adat-istiadat para leluhurnya, yang mengandung nilai-nilai budaya yang bernilai sangat tinggi, seperti masyarakat Bena ini. Filosofi kehidupan dan norma-norma budayanya yang menjunjung tinggi para leluhur menunjukkan betapa masyarakat Bena sangat menghormati dan menghargai pengorbanan dan perjuangan para pendahulunya. Sungguh, masyarakat tradisional benar-benar merupakan masyarakat yang berbudaya tinggi.
(Yani Adriani)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar