PENGETAHUAN GEOGRAFI

Pengetahuan Geografi dan Topografi Nenek Moyang Kita Sudah Tinggi

Oleh DJULIANTO SUSANTIO
Candi Borobudur bukan hanya dikenal karena kemegahannya, tetapi juga keunikannya. Candi ini ternyata berada satu garis lurus dengan Candi Pawon dan Candi Mendut. Bila diamati dari darat, memang keunikan candi ini tidak kentara. Keunikan ini baru jelas terlihat dari udara. Tentulah timbul pertanyaan bagi masyarakat yang hidup pada zaman sekarang. Apakah pada abad ke-8, saat candi-candi itu didirikan, nenek moyang kita sudah mengenal pengetahuan geografi dan topografi yang baik? Apakah pembangunan candi-candi itu dibantu oleh makhluk dari luar angksa?
Pada 1930-an Nieuwenkamp pernah melontarkan suatu khayalan ilmiah berdasarkan penglihatan dari udara. Didukung oleh penelitian geologi, Nieuwenkamp yakin kalau Candi Borobudur bukannya dimaksudkan sebagai bangunan stupa melainkan sebagai bunga teratai yang mengapung di atas danau. Danau yang sekarang sudah kering sama sekali itu dulunya meliputi sebagian dari daerah dataran Kedu yang terhampar di sekitar Bukit Borobudur. Dia menghitung bahwa tepi danau itu adalah garis tinggi 235 meter di atas permukaan laut, sehingga Candi Pawon dan Candi Mendut terletak di daratan, meskipun dekat tepi danau (Soekmono, 1996).
Candi Borobudur sendiri, konon sengaja didesain sebagai bunga teratai yang menengadah menghadap ke udara untuk menjadi tempat turunnya Sang Buddha dari langit di kemudian hari. Foto udara daerah Kedu Selatan memang memberi kesan akan adanya danau yang amat luas di sekeliling Candi Borobudur. Akan tetapi, penelitian geologi lanjutan tidak dapat mendukung teori Nieuwenkamp itu. Lagi pula, khayalan Nieuwenkamp tidak dapat bertahan lama karena bantahan van Erp. Dengan demikian, tidak pernah mendapat perhatian serius dan sekarang praktis dilupakan.
India
Kemungkinan besar, pembangunan Candi Borobudur, Candi Pawon, dan Candi Mendut dipengaruhi alam pikiran India. Menurut kitab-kitab kuno India, tempat terbaik untuk mendirikan candi, baik candi Hindu maupun candi Buddha, adalah tempat bertemunya dua sungai. Mengingat di dataran Kedu mengalir sungai Elo dan sungai Progo, dipercaya kesucian akan selalu menyertai ketiga candi itu. Stutterheim menganggap dataran Kedu sama benar geografinya dengan daerah aliran sungai Gangga dan sungai Yamuna di India.
Tanpa bantuan peta, sulit sekali bagi kita sekarang untuk mengenali pasangan sungai Progo-Elo sebagai padanan dari sungai Gangga-Yamuna. Jelas bahwa nenek moyang kita sudah mempunyai pengetahuan geografi yang amat tinggi. Pemilihan lokasi Candi Borobudur, Pawon, dan Mendut sering diidentikan dengan wilayah suci Bodh Gaya di India.
Tak pelak, pembangunan ketiga candi sudah menggunakan prinsip-prinsip astronomi yang canggih untuk ukuran masa itu. Penelitian arkeoastronomi (astronomi purba) pada abad ke-20 mampu mengenali banyak situs kuno di dunia yang segaris dengan matahari, bulan, dan bintang. Berpedoman pada astronomilah maka keberadaan ketiga candi bisa terletak dalam satu garis lurus.
Sebenarnya, bukan hanya ketiga candi itu yang mencerminkan betapa tingginya pengetahuan geografi dan topografi nenek moyang kita. Di Jawa Timur kita mengenal Gunung Penanggungan yang dihubungkan dengan cerita kuno Tantu Panggelaran. Selain ditaburi sekitar 100 candi kecil, pada lereng barat dan lereng timur dibangun petirtaan (kolam air) Candi Jalatunda dan Candi Belahan.
Pada awalnya, kedua bangunan purbakala itu difungsikan untuk menampung air suci yang keluar dari perutnya. Namun, setiap saat musim kering yang diiringi krisis air berkepanjangan tiba, banyak masyarakat masa kini memanfaatkan air dari kedua situs kuno itu untuk berbagai keperluan. Air dari Candi Jalatunda dan Candi Belahan selalu memancar setiap saat, termasuk saat musim kering yang gawat sekalipun.
Sulit untuk menjelaskan bagaimana keterampilan nenek moyang kita dalam membuat “peta nusantara” mengingat waktu itu belum dikenal pengetahuan modern foto udara atau penginderaan jarak jauh. Sayang, sampai hari ini kita belum mampu memberikan jawaban yang pasti. Kecuali mungkin Erich von Daniken, seorang pengarang fiksi ilmiah tentang dunia masa lampau yang sangat populer.
Dia percaya, ribuan tahun yang lalu bumi kita kedatangan makhluk-makhluk dari planet lain menggunakan kendaraan angkasa. Mereka mengajarkan ilmu yang amat tinggi dan teknologi yang amat canggih kepada penduduk bumi. Benar tidaknya argumen Daniken, tentu tergantung kepiawaian para arkeolog untuk menguak tabir misteri yang masih menyelimuti berbagai kepurbakalaan itu.***
DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog, tinggal di Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar