HASIL SEDIMENTASI

Pesisir Pantai dan Daerah Tangkapan Air di Kabupaten Tanah Laut

Lahan Basah (wetlands) menurut konvensi Ramsar, dapat diartikan sebagai lahan basah yang secara alami atau buatan selalu tergenang, baik secara terus-menerus ataupun musiman, dengan air yang diam ataupun mengalir. Air yang menggenangi lahan  basah dapat berupa air tawar, payau dan asin. Tinggi muka air laut yang menggenangi lahan basah yang terdapat di pinggir laut tidak lebih dari 6 meter pada kondisi surut.
Pada praktikum kali ini yang dilakukan pada tanggal 8 Juni 2009 s/d 10 Juni 2009, kami melakukan observasi lapangan mengenai keadaan lingkungan lahan basha di tiga tempat, yaitu lahan basah rawa gambut yang berlokasi di Km. 17 Kecamtan Gambut Kabupaten Banjar, lahan basah kawasan rawa pesisir pantai di Desa Pagatan Besar Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut, dan lahan basah daerah Tangkapan air (Damit) Kabupaten Tanah Laut, tetapi untuk postingan kali ini hanya akan dibahas tentang daerah pesisir pantai Desa Pagatan Besar serta daerah tangkapan air (Damit).
DSC01215
Sebelumnya, saya akan sedikit memberikan gamabaran tentang daerah lahan basah rawa gambut yang berlokasi di Km. 17 Kecamtan Gambut Kabupaten Banjar  ini memiliki potensi yang sangat bagus sebagai tempat pembudidiayaan beberapa tanaman obat seperti teratai, kayu galam, karamunting dan beberepa tanaman lain. Dasar rawanya sendiri merupakan hasil sedimentasi dari bahan-bahan organik sehingga berwarna hitam.
DSC01226
Daerah yang telah dikunjungi merupakan daerah yang telah diuruk beberapa lapis, lapisan pertama terdiri dari tanah liat yang berwarna putih kemudian tanah yang kedua berwarna merah. Sayang sekali daerah ini masih tidak jelas tujuan reklamasi lahannya, sebab menurut narasumber daerah ini sudah diuruk sejak setahun yang lalu namun sampai sekarang masih belum terlihat ingin dibangun apa di daerah tersebut. Permasalahan yang menyangkut masalah kesehatan akibat reklamasi lahan adalah migrasi nyamuk, karena daaerah rawa tersebut merupakan tempat habitat nyamuk sehingga jika daerah rawa tersebut direklamasi maka yang akan terjadi nyamuk bermigrasi ke daerah tempat penduduk tinggal sehingga menyebabkan wabah malaria.
Wilayah pesisir adalah suatu jalur saling pengaruh antara darat dan laut, yang memiliki ciri geosfer yang khusus, kearah darat dibatasi oleh pengaruh sifat-sifat fisik laut dan sosial ekonomi bahari, sedangkan ke arah laut dibatasi oleh proses alami serta akibat kegiatan manusia terhadap lingkungan di darat.
Lingkungan pantai merupakan daerah yang selalu mengalami perubahan, karena merupakan daerah pertemuan kekuatan yang berasal darat dan laut Perubahan ini dapat terjadi secara lambat hingga cepat tergantung pada imbang daya antara topografi, batuan, dan sifatnya dengan gelombang, pasang surut dan angin. Oleh karena itu didalam pengelolaan daerah pesisir diperlukan suatu kajian keruangan mengingat perubahan ini bervariasi antar suatu tempat dengan tempat lain.
Manfaat ekosistem pantai sangat banyak, namun demikian tidak terlepas dari permasalahan lingkungan, sebagai akibat dari pemanfaatan sumber daya alam di wilayah pantai. Permasalahan lingkungan yang sering terjadi di wilayah perairan pantai, adalah pencemaran, erosi pantai, banjir, inturusi air laut, penurunan biodiversitas pada ekosistem mangrove dan rawa, serta permasalahan sosial ekonomi.
DSC01234DSC01254
Pesisir pantai Pagatan Besar tergolong sebagai pantai yang cukup mengkhawtirkan keadaannya, karena pesisir pantai tersebut tergenang oleh lumpur yang dibawa air laut. Lumpur-lumpur yang mengendap di daerah pesisir pantai tersebut merupakan lumpur yang dibawa air laut dan  berasal dari aliran sungai Barito (laut di sekitar pesisir pantai Desa Pagatan Besar merupakan muara dari sungai Barito). Hal ini membuat daerah pesisir tersebut terlihat sangat kotor. Hampir di semua pesisir pantai yang dilalui saat observasi dilakukan tertutup oleh lumpur yang mengendap dengan panjang lumpur dari tepi pantai hingga ke laut sekitar 1-5 meter. Ironis memang, pantai yang seharusnya sebagai habitat dari flora dan fauna yang dapat hidup di pesisir pantai menjadi rusak oleh karena tertutup lumpur dari limbah pabrik-pabrik yang berdiri di sekitar sungai Barito.
Pantai di Desa Pagatan Besar ini sendiri menurut narasumber (penduduk) sebelumnya memang belum ada, jadi kemungkinan besar di daerah tersebut terjadi abrasi oleh keras ombak serta derasnya angin yang berhembus di atas air laut yang menimbulkan gelombang dan memiliki kekuatan untuk mengikis pantai, dengan kemungkinan terburuk pantai tersebut akan terus mengalami abrasi sehingga pantai semakin dekat ke rumah penduduk. Hal ini cukup merugikan bagi penduduk di sana karena harus mengungsi atau pindah secara permanen dari daerah tersebut. Daerah ini pun tidak memiliki kemampuan untuk menghalangi abrasi, karena hutan mangrove yang biasanya memiliki perakaran yang kuat untuk menahan abrasi hanya sedikit yang mampu tumbuh dan dapat bertahan di pantai ini.Tanaman mangrove yang hidup di daerah ini merupakan jenis Mangrove Api-api. Tanaman mangrove disini terlihat agak sedikit berbeda dari tanaman mangrove di daerah lain. Warga sekitar sendiri juga tidak mengetahui mengapa hanya sedikit mangrove yang dapat hidup di daerah tersebut. Memang ada mangrove yang terlihat telah dipotong dengan gergaji oleh warga, tetapi menurut pengakuan warga mereka hanya menggergaji tanaman  mangrove yang sudah mati saja, dengan alasan mereka mengetahui bahwa mangrove dapat berguna untuk menahan kikisan ombak di pantai. Kendala untuk penanaman mangrove kembali sendiri berupa sulitnya bibit mangrove untuk langsung hidup di tepi pantai karena dapat terkikis oleh ombak atau dibawa hanyut oleh ombak disekitar pantai tersebut. Hal ini dapat terjadi karena bibit mangrove tersebut belum memiliki perakaran yang kuat. Pemerintah sendiri belum memberikan tindakan serta perhatian yang intensif untuk masalah abrasi ini. Hal ini terlihat dengan tidak adanya usaha oleh pemerintah untuk melakukan pembangungan siring atau pemecah ombak di daerah tersebut.
DSC01237
Masalah salinitas di daerah tersebut merupakan salah satu masalah yang cukup urgent sehingga sangat mendesak untuk diselesaikan. Salinitas merupakan jumlah garam yang terkandung dalam satu kilogram air. Salinitas merupakan faktor yang penting dalam ketersediaan air bersih dalam lingkungan pesisir. Kadar salinitas dalam air yang berlebih mengakibatkan berbagai efek terhadap manusia terutama untuk kesehatan manusia. Air laut di daerah tersebut memikili kadar salinitas yang cukup tinggi. Masukknya air laut ke bawah tanah atau yang biasa disebut dengan intrusi air laut menyebabkan air bawah tanah di daerah tersebut terkontaminasi oleh air laut. Air tanah yang semula tawar menjadi payau, menurut narasumber air sumur yang mereka gunakan baru berubah menjadi payau sejak 5 tahun yang lalu. Sekarang sebagian dari warga akan membeli air untuk digunakan sebagai air minum, tetapi untuk keperluan memasak serta masalah MCK tetap menggunakan air sumur yang ada di rumah mereka masing-masing. Beberapa warga mengatakan bahwa untuk masalah kesehatan tidak terlalu menjadi masalah karena sudah terbiasa, tetapi untuk kasus bayi, batita dan balita beberpa memang terkena diare dan gatal-gatal pada awalnya. Diare ini sumbernya dapat dari mikroorganisme yang merugikan seperti bakteri E.Coli, Shigella, Salmonella, dan Campylobacter yang mungkin terkontaminasi pada air sumur yang digunakan oleh warga. Sealin itu jika warga tersebut terus menkonsumsi air dengan kadar salinitas yang tinggi, logam-logam yang terlaut di air tersebut akan terakumulasi di tubuh mereka dan akan mengakibatkan berbagai penyakit di kemudian hari. Sebagai perbandingan, air tawar mempunyai salinitas < 0,5 ppt dan air minum maksimal 0,2 ppt. Dari sumber literatur lain, air tawar maksimal mempunyai salinitas 1 ppt sedangkan air minum 0,5 ppt. Sementara itu air laut rata-rata mempunyai salinitas 35 ppt.
Flora yang tumbuh di daerah ini hanya ada beberapa yaitu jarak, jangkang, banglai, andi-andi, lambai, bakung, pandan laut dan beberapa tanaman lain, sedangkan untuk fauna di daerah itu berupa udang, ikan laut, kerang, timpakul, nyamuk, kepiting (kepiting di daerah ini cukup aneh karena hanya memilik satu capit, ada yang memiliki di sebelah kanan dan ada pula yang disebelah kiri serta ada pula kepiting satu capit yang berwarna biru menyala), dan hewan-hewan lainnya. Tanaman disini sendiri tidak terlalu dimanfaatkan warga sebagai tanaman obat atau dieksploitasi warga secara berlebihan sehinggga kebanyakan faktor alam yang mempengaruhi tanaman di daerah tersebut. Kemungkinan besar tanaman tersebut tidak terlalu dapat tumbuh di daerah tersebut karena kadar salinitas air tanah yang cukup tinggi sehinnga makin besar kadar garam menyebabkan zat cytokinin (substansi yang mengontrol daun) berkurang sehingga daun akan cepat menjadi layu sehingga tumbuhan cepat mati.
Sebagian warga selain memiliki mata pencaharian sebagai petani juga sebagai nelayan yang memanfaatkan kekayaan alam di daerah tersebut. Banyak nelayan yang memanfaatkan daerah pesisir untuk memasang jala, membuat jala, serta melabuhkan kapal-kapal mereka.
Kizzziel anay..064
Daerah tangkapan air (Damit) yang terletak di Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut merupakan tempat observasi selanjutnya.  Damit ini merupakan daerah yang digunakan sebagai  pemasok air untuk perairan di sawah serta kebun petani yang ada di sekitar daerah tersebut. Keadaan fisik daerah tangkapan air ini cenderung kurang perawatannya serta kemampuannya untuk menampung air juga kurang karena dari awal pembuatannya sampai sekarang sudah 2 (dua) kali mengalami jebol.
Jenis air yang terdapat di kawasan Damit adalah air yang berada dalam siklus hidrologi (air hujan), yang disebut dengan air meteorik. Siklus air meteorik ini erat hubungannya dengan siklus hidrogeologi atau siklus air anah, Di dalam siklus ini terdapat beberapa proses yaitu radiasi, evaporasi, evapotranspirasi, dan presipitasi.
Pada saat musim hujan, maka tangkapan air menjadi lebih banyak sehingga untuk pengairan sawah dan kebun menjadi lancar. Eksploitasi hutan berupa penebangan pohon di daerah tersebut menyebabkan berkurangnya daerah tangkapan air. Tidak adanya penahan air dapat menyebabkan kawasan tersebut menjadi rentan mengalami banjir dan longsor. Bendungan yang ada di daerah tersebut akan bekerja lebih berat untuk menampung air hujan dan air yang berasal dari beberapa anak sungai yang jika bendungan tidak mampu menahan air akan mengakibatkan jebolnya tanggul sehingga menyebabkan banjir dan berakibat buruk pada petani di daerah tersebut karena sawah dan kebun mereka rusak. Kejadian ini memberikan kerugian yang cukup besar pada para petani, dan menurut hasil observasi beberapa petak sawah di daerah tersebut terbengkalai karena rusak ketika terjadi banjir.
Kizzziel anay..058DSC01316
Musim kemarau merupakan salah satu penyebab kekeringan di daerah tersebut. Daerah Damit akan mengalami kekurangan pasokan air sehari-hari. Bibit tanaman yang ada di sawah akan terganggu pertumbuhannya karena kekurangan air. Irigasi lebih diprioritaskan untuk tanaman palawija, sedangkan untuk sawah. Keuntungan pada masa ini, daerah tersbut tidak akan mengalami banjir karena pasokan air yang ditahan oleh bendungan berkurang.
DSC01312
Flora dan fauna didaerah ini cukup beragam, dan beberapanya berkhasiat sebagai tanaman obat. Tanaman-tanaman tersebut antara lain rumput remason, padi, singkong, timun, kacang panjang, tomat, tebu, karamunting, jagung, kangkung, permot, dan karet. Fauna yang hidup di daerah tersebut berupa semut, lalat, cacing, bekicot, siput dan lebah tanah. Pada umumnya warga di sana hanya memanfaatkan sumber daya alam untuk kepentingan mencari keuntungan yang bersifat materil.
Masalah kesehatan bukan masalah utama di daerah ini. Penyakit yang sering muncul berupa demam berdarah dan penyakit kulit. Banyaknya daerah yang tergenang oleh air dapat menjadi habitat nyamuk demam berdarah. Warga daerah Damit ini tidak menggunakan air untuk dikonsumsi, hanya untuk mencuci dan mandi sehingga untuk penyakit diare atau saluran pencernaan lain yang berasal dari air tidak terlalu bermasalah, tetapi untuk masalah penyakit kulit masih ada di masyarakat sekitar.
Dari ketoga tempat yang telah dikunjungi, ada berbagai tanaman yang memiliki potensi sebagai tanaman obat seperti teratai yangberguna untuk anlagetika (pereda nyeri), antipiretika (penurun demam), serta anti diare; alang-alang yang dapat digunakan untuk mengobati panas dalam, sariawan, menghentikan pendaharahan, pelembut kullit, oenambah nafsu makan, siuretika, ginjal, hipertensi, dan penyakit syaraf lainnya; purun tikus dapat digunakan sebagai indikator herbal untuk tanah sulfat masam dan mengikat kadar logam; karamunting dengan khasiat sebagai penetral racun,  disentri basiler, diare, hepatitis, keputihan(leukorea), haid, wasir darah, pendarahan rahim, berak darah, radang dinding pembuluh darah, tromboangitis; Mengkudu dapat menurunkan kadar kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) dan trigliserida, serta meningkatkan kadar kolesterol High Density Lipoprotein (HDL), selain itu dapat diguakan sebagai obat cacing Ascaridia galli, untuk mengatasi peradangan, mempercepat pertumbuhan, dan mengatur pertumbuhan sel normal; jambu biji dapat digunakan sebagai obat diare serta untuk relaksasi tonus otot polos; Lempuyang pahit memiliki kandungan minyak atsiri dengan komponen utama seskuiterpenketon dan fungsinya sebagai pereda kejang perut;  Api-api dapat digunakan sebagai kontrasepsi alami; rumput rhemason untuk mengobati gatal-gatal

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar